Tempat tinggal atau papan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia dan kebutuhan papan tersebut wajib dipenuhi. Seiring dengan perkembangan jaman dan peradaban manusia, kebutuhan papan ini selalu mengalami peningkatan permintaan karena meningkatnya jumlah populasi manusia di dunia. Namun begitu, hal ini tidak diikuti dengan adanya perluasan lahan pemukiman. Hal inilah yang mendorong para investor untuk menjadikan peluang tersebut sebagai bisnis yang dapat mendatangkan keuntungan bagi mereka, atau lebih dikenal dengan sebutan bisnis properti.
Di Indonesia, prospek bisnis properti ini juga mengalami perkembangan yang pesat terutama di daerah perkotaan. Direktur Eksekutif PSPI (Pusat Studi Properti Indonesia) menyampaikan bahwa bisnis properti dalam wujud perumahan di tengah kota akan berkembang hingga 12%. Sedangkan prospek bisnis property pada ruko atau apartemen yang berlokasi strategis akan tumbuh hingga 15% dan untuk perkantoran atau perhotelan akan mampu berkembang 10 – 12%, sedangkan untuk bisnis mall dan trade center akan meningkat 5 – 7%.
Pesatnya perkembangan bisnis property di Indonesia tidak lain adalah karena wilayah Indonesia memiliki ribuan pulau dan kaya akan sumber daya alam yang cukup berpotensi sekali jika dijadikan untuk pengembangan bisnis properti, serta tingginya jumlah penduduk Indonesia yang secara otomatis akan meningkatkan permintaan akan rumah tinggal.. Di samping itu, stabilnya bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi salah satu pemicu terbesar booming sektor properti di Indonesia. Situasi tersebut sedikit banyak ikut mempengaruhi pasar bunga kredit perbankan nasional, termasuk bunga Kredit pemilikan Rumah (KPR).
Adanya penurunan biaya pemilikan properti semakin mendorong minat masyarakat terhadap properti. Kenaikan property di lokasi-lokasi strategis bisa mencapai tiga kali lipat atau 300 % dalam tempo kurang dari lima tahun. Dari riset konsultan property Knight and Frank menyampaikan bahwa harga property residensial mewah di Jakarta mencatat kenaikan 80 % dalam lima tahun terakhir. Sedangkan rata-rata harga jual residensial mewah di Jakarta tercatat telah mencapai harga US$ 3.746 per m2 atau sekitar Rp. 36.33 juta dengan asumsi harga dollar AS setara Rp. 9.700.
Meskipun sempat dikabarkan bahwa pada tahun 2014 akan terjadi perlambatan pada bisnis property karena adanya Pemilu legislative dan Pemilu Presiden, namun menurut CEO Binakarya Propertindo Group, Go Hengky Setiawan, perlambatan tersebut hanya sementara karena pascapemilu bisnis property akan kembali naik lagi. Beliau juga menyampaikan bahwa permintaan akan rumah di tanah air masih tinggi sebanyak 400.000 unit per tahun. Sementara itu, penawaran dari para pengembang masih belum dapat menutup kebutuhan tersebut. Dengan demikian, peluang bisnis di bidang properti masih cukup tinggi. Jadi, bagi yang ingin memulai sebuah bisnis mungkin bisnis propert ini bisa dijadikan sebagai pilihannya mengingat prospek yang dimiliki oleh bisnis ini cukup menjanjikan.
Sumber :
http://properti.kompas.com/read/2013/04/15/10240649/Prospek.Properti.Pasca.Pemilu.2014.Tetap.Cerah
No comments:
Post a Comment