Pages

Sunday, January 12, 2014

Kisah Sukses Martha Tilaar Mengubah Dunia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Bersyukur, bersabar dan pantang menyerah. Itulah kunci kesuksesan seorang Martha Tilaar.
Butuh waktu 43 tahun buat seorang Martha Tilaar untuk menjadikan dirinya sesukses sekarang. Dari anak kampung sampai menjadi pengusaha produk kecantikan yang disegani, tak hanya di negeri sendiri saja, tetapi di dunia.
Berkat Martha, derajat perempuan Indonesia bisa terangkat. Ia seperti mengubah dunia.
"Saya selalu teringat perkataan ayah saya. You can change the world, tapi perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri," kenang nenek enam cucu ini saat ditemui TRIBUNnews.com sebelum acara buka bersama di kediamannya, kawasan Kuningan, Jakarta, akhir pekan lalu.
Wejangan ayahnya itu mengingatkannya bahwa siapapun bisa mengubah dunia.
"Jadi jangan mengeluh kalau ayah Anda tidak kaya, suami tidak kaya, atau pemerintah tidak mau membantu," ujar pendiri Martha Tilaar Group itu.
Dengan demikian, ujar Martha, memicu diri sendiri untuk berinovasi,  melahirkan ide-ide kreatif yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, dan menjadi manusia jitu.
"Jitu adalah manusia disiplin, jujur, dan beriman kuat," ucapnya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap mental generasi muda sekarang yang menginginkan segala sesuatu secara instan, tanpa ada perjuangan dan pengorbanan.
"Lihat akibatnya. Seperti kata suami saya, mereka menginap di hotel prodeo," ujar Martha.

Sumber : http://www.tribunnews.com/lifestyle/2013/07/29/kisah-sukses-martha-tilaar-mengubah-dunia

Coco Chanel: Gadis Miskin Yang Merubah Sejarah Fashion

“Sukses sering dicapai oleh mereka yang tidak tahu bahwa kegagalan tidak bisa dihindari.” ~ Coco Chanel

Bermimpi itu gratis. Tapi, mewujudkan mimpi itu butuh biaya. Hal itu yang sering menghambat seseorang mengupayakan mimpinya menjadi kenyataan. Ada ketakutan akan ketidakmampuan menggapai mimpi yang “dianggap” terlalu tinggi. Namun, Tuhan yang mengatur segalanya. Kita sebagai manusia, sebaiknya terus berusaha menggapai mimpi. Minimal, demi masa depan yang lebih baik dari sekarang.
Kalau mau berusaha keras meraih mimpi, niscaya tak ada yang mustahil. Lihat saja kisah perjalanan kesuksesan Coco Chanel, seorang perancang busana terkenal yang juga pemilik brand CHANEL. Coco Chanel yang bernama asli Gabrielle Bonheur Chanel hanya seorang gadis miskin dari keluarga pedagang sayuran di sebuah pasar kecil di Perancis. Sejak usia 6 tahun, Ibunda Coco meninggal dunia. Setelah kematian ibunya, Coco bersekolah di asrama Katolik.
Di asrama itu, kisah sukses wanita kelahiran Perancis, 19 Agustus 1883 itu bermula. Pada saat musim panas, Coco berlatih menjahit di asrama. Menjahit jadi aktivitas yang ia gemari, karena dia menjahit sendiri baju-baju yang akan ia kenakan. Lambat laun, Coco pun berkreasi membuat topi perempuan, baju perempuan, dan masih banyak produk lain untuk dijual. Dalam setiap desainnya, Coco selalu mengutamakan kebebasan dan aspek kepraktisan perempuan dalam aktivitas kesehariannya.
Siapa sangka, hasil rancangannya banyak disukai perempuan di masa itu. Bersama sang Paman, Coco pun membuka toko pakaian di luar kota Paris. Tak mau terus-terusan menjadi penjahit kelas bawah, Coco mengembangkan desain pakaiannya dengan menggunakan renda, mutiara dan aksesori indah lain.
Usahanya kian berkembang pada tahun 1910 saat ia membuat topi trim kecil yang cocok digunakan di ruang terbuka. Topi itu kemudian menjadi tren mode di seluruh dunia. Tahun 1914 menjadi tahun bersejarah, karena di tahun itu, Coco membuka dua butik resmi Chanel. Pada tahun 1929, saat hanya kaum kaya saja yang menggunakan celana panjang, Coco melawan mainstream dengan menciptakan tren wanita menggunakan celana panjang dan pakaian olahraga untuk wanita. Ia selalu pandai berkreasi, membuat perhatian tertuju padanya.
Kreativitas Coco tak hanya berhenti di dunia desain pakain saja. Di tahun 1932, Coco Chanel meluncurkan parfum bernama Chanel No. 5 yang laris di pasaran. Parfum itu adalah parfum pertama yang diberi merek dari nama seorang perancang busana. Hingga akhirnya, banyak perancang lain yang mengikuti langkah wanita cantik ini, memberi merek parfum dengan nama perancangnya.
Pahitnya kehidupan sudah pernah dirasakan Coco Channel. Ia yang dilahirkan dari keluarga miskin pun bersumpah akan membuat kaum jenset terkagum-kagum oleh karya-karya rancangannya, sekaligus merangkak di bawah kakinya. Impiannya tercapai, melalui kerja keras dan tekad membuat seorang perempuan tampil menarik dalam berbusana. Perjalanan Coco Chanel terhenti di usia 87 tahun. Ia meninggal pada tanggal 10 Januari 1971 akibat serangan jantung di Hotel Ritz Paris. Di akhir hayatnya, kerajaan bisnis merek Chanel yang ia bangun dengan susah payah telah menghasilkan pendapatan sebesar lebih dari 160 juta dolar per tahun .
Mimpi si gadis miskin yang kemudian melenggang menjadi sosialita yang karyanya dielu-elukan perempuan di seantero jagad memberi pelajaran berharga. Bahwa kesuksesan bukan hanya milik mereka yang berasal dari keluarga kaya. Kesuksesan itu milik siapa saja yang gigih, cerdas dan yakin dengan kemampuan yang dimiliki. Jangan gentar dengan hambatan atau rintangan yang ada. Kegagalan tidak dapat dihindari, namun bisa dihadapi dengan percaya diri.
Sumber : http://hot.yukbisnis.com/mimpi-coco-chanel/

Kisah Donald Trump Bangkit dari Kebangkrutan

Jika Anda pernah melihat acara The Apprentice di salah satu stasiun TV Indonesia, Anda pasti tak asing lagi dengan pengusaha super kaya asal Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Hingga Juni 2013, tercatat kekayaannya US$ 63 juta atau Rp 713,3 miliar versi Forbes.
Namun tahukah Anda, pria bernama lengkap Donald John Trump ini pernah mengumpulkan berkas kebangkrutan sejumlah perusahaannya pada 1991, 1992, 2004 dan 2009. Hebatnya, dia masih bisa bertahan secara keuangan dan kembali membangun serangkaian bisnis lain.
Saat kecil, Trump merupakan anak yang energik dan agresif. Orangtuanya bahkan mengirim dia ke sekolah berbasis militer guna menyalurkan energinya pada hal-hal yang positif. Di sana dia bergaul dengan baik bahkan menjadi bintang siswa.
Kepribadian baik Trump itulah yang hingga kini menjadi kunci kesuksesan bisnisnya. Trump yang mudah bergaul memiliki banyak teman dan relasi bisnis. Namun motivasinya menjadi pengusaha real estate banyak dipengaruhi sang ayah yang terlebih dulu mendirikan perusahaan penegmbang The Trump Organization.
Setelah bergabung dengan perusahaan ayahnya, dia terus memberikan gagasan baru yang membuat bisnis tersebut terus berkembang. Berikut profil lengkap Donald Trump yang saat ini menjabat sebagai Presiden The Trump Organization dan pendiri Trump Entertainment Resorts:
Donald John Trump lahir pada 14 Juni 1946 di Queens, New York. Dia merupakan anak ke empat dari pasangan Frederick C. dan Mary MacLeod Trump. Frederick merupakan pendiri dan pengembang real estate yang memiliki spesialisasi di bidang konstruksi dan pengoperasian sejumlah apartemen kelas menengah di Queens, Statn Island dan Brooklyn. Dia merupakan salah satu konglomerat di New York saat itu.
Saat kecil, seperti dilansir Liputan6.com, Trump merupakan anak yang energik dan tegas. Melihat sikap dan karakter anaknya tersebut, Frederick mendaftarkannya ke Akademi Militer New York (New York Military Academic) saat Trump masih berusia 13 tahun.
Disiplin di sekolah tersebut diharapkan dapat menyalurkan sikap positif atas karakternya tersebut. Memang benar, Trump belajar dengan sangat baik di akademi tersebut. Secara sosial dia bergaul akrab dan punya banyak teman. Trump juga merebut sejumlah penghargaan di bidang akademis. Dia sempat mengikuti beberapa kejuaraan sepak bola dan baseball.
Namanya tenar sebagai bintangnya atlet sekolah dan ketua siswa hingga lulus pada 1964. Dia lalu mendaftar di Fordham Universty sebelum akhirnya pindah ke Wharton School of Finance di University of Pennsylvania. Dari sekolah tersebut dia menyabet gelar sarjana ekonomi.
Awalnya dia sempat tertarik untuk belajar di sekolah film. Namun akhirnya dia memutuskan bisnis real estate jauh lebih baik.
Pengaruh ayahnya pada kehidupan Trump terlihat sangat kuat. Hal itulah yang membuat dia memutuskan untuk terjun ke dunia karir yang sama dengan sang ayah. Meski demikian, Trump yang saat itu masih sangat muda memiliki target bisnis yang jauh lebih besar dari apa yang sudah dicetak ayahnya.
Sejak masih menjadi mahasiswa, Trump sudah mulai bekerja pada ayahnya selama musim libur panas. Setelah lulus dia pun bergabung dengan Trump Organization, perusahaan pengembang real estate milik ayahnya tersebut.
Setelah meyakinkan ayahnya untuk bergerak lebih liberal dalam penggunaan pinjaman berbasis ekuitas di kompleks apartemen Trump, dia berhasil mendanai ekspansi perusahaan. Namun demikian persaingan di bisnis tersebut masih sangat ketat dan selisih untungnya masih kecil.
Pada 1971, dia memutuskan untuk pindah ke Manhattan dan bertemu dengan banyak orang penting di sana. Berbekal keyakinan akan peluang di kota tersebut, Trump terlibat dalam proyek pembangunan besar. Dengan menggunakan desain arsitektur yang menarik dan hubungan publik yang baik peluang tersebut menjanjikan untung yang jauh lebih besar.
Saat ini, Trump menjabat sebagai Presiden sekaligus CEO Trump Organization. Dia juga mendirikan perusahannya sendiri Trump Entertainment Resorts. Pria yang dulu mahir berolahraga ini merupakan salah satu pengusaha real estate terbaik di AS.
Saat Pennsylvania Central Railroad mengalami kebangkrutan, Trump mampu memperoleh opsi menggarap sejumlah lahan rel kereta api di Manhattan.
Saat sejumlah rencana pembangunan apartemen dinyatakan tak layak karena iklim ekonomi yang rendah, Trump mempromosikan properti tersebut sebagai lokasi pusat pertemuan (convention center) di sana. Pemerintah kota Manhattan memutuskan agar penggarapannya di dua kota lain pada 1978.
Trump menawarkan untuk mengurangi biaya pembangunannya jika pusat konvensi tersebut diberi nama sesuai nama keluarganya. Namun tawaran tersebut ditolak dan dia justru menerima tawaran baru untuk membangun kompleks dengan nama senator Jacob Javits.
In 1974 Trump obtained an option on one of the Penn Central's hotels, the Commodore, which was unprofitable but in an excellent location adjacent to Grand Central Station. The next year he signed a partnership agreement with the Hyatt Hotel Corporation, which did not have a large downtown hotel.
Trump yang pandai memanfaatkan potensi bisnis juga menggaet Hyatt Hotel Corporation untuk bekerja sama dengan perusahaannya. Saat itu, Grand Hyatt masih belum memiliki banyak hotel di kota-kota kecil.
Trump telah membangun kerajaan bisnisnya dari Las Vegas hingga New York lewat sejumlah hotel dan casino yang menyebar di berbagai daerah AS. Namun tak semua bisnisnya berhasil dan mencetak uang. Pada 1991, 1992, 2004 dan sekali lagi pada 2009, perusahaan-perusahaan ternama milik Trump dilaporkan bangkrut.
Tak diragukan lagi, nama dan citra Trump tak telah membantunya bertahan dari setiap kebangkrutan yang dialaminya. Rekannya di salah satu perusahaan New York, Edward Weisfelner membantunya melunasi utang-utang atas kebangkrutan bisnis kasinonya tersebut.
Semua kebangkrutannya berkaitan dengan properti hotel dan kasino di bawah banner Trump Entertainment Resorts. Sementara kebangkrutan pribadinya adalah saat dia mendanai konstruksi Trump Taj Mahal dengan junk bond dan tak mampu membayar bunganya yang tinggi. Bisnisnya di ujung tanduk dan dia memiliki utang pribadi sebesar US$ 900 juta.
Namun pada pertengahan 1990-an dia mampu membayar sebagian besar utangnya dengan menjual kapal pesiar pribadinya, Trump Princess, maskapai pribadinya Trump Shuttle dan sahamnya di sejumlah bisnis lain.
Dari kebangkrutannya tersebut dia belajar banyak. Dia pun kapok menjamin utangnya dengan kekayaan pribadinya.
Bicara soal kebangkrutan perusahaan, dia dengan tenangnya mengatakan, ada hukum di negeri ini yang bisa digunakan untuk mengatasi kebangkrutan dan bisa membantunya membayar utang. Anda punya perusahaan, bangkrut dan ajukan pemberkasan pembayaran utang, bernegosiasi dengan bank, dan buat kesepakatan yang luar biasa. Menurutnya hal tersebut tak perlu dipikirkan secara pribadi, begitulah bisnis.
Dia pun bangkit lagi dan terus mencapai tempat-tempat tinggi dalam berbisnis.
Trump yang saat itu tengah berkecimpung di dunia bisnis properti mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Ivana Marie Zelnickova pada 1977. Dari pernikahannya tersebut Trump memiliki tiga orang anak yaitu Donald Jr., Ivanka dan Eric. Pernikahan yang sempat bertahan selama 15 tahun tersebut berakhir pada 1992.
Saat masih terikat status pernikahan bersama Ivana, Trump sudah terlibat kasus perselingkuhan bersama Marla Maples. Beritanya bahkan menjadi headline di salah satu surat kabar New York pada 1990. Setahun setelah bercerai dengan istri pertamanya dia pun menikahi Marla Maples. Keduanya dianugerahi satu orang puteri bernama Tiffany.
Setelah 9 tahun menikah, Maples dan Trump memutuskan untuk bercerai pada 1999. Saat diwawancara, Trump hanya mengatakan, memang sulit bagi Ivana dan Marla untuk bersaing, tapi dia sangat mencintai pekerjaannya.
Pada 2004, dia melamar Melania Knauss, wanita asala Slovenia. Melanie memberinya anak laki-laki pada 2006 bernama Barron. (as)

Sumber  :  http://www.ciputraentrepreneurship.com/bisnis/kisah-donald-trump-bangkit-dari-kebangkrutan

Kisah Sukses Pengusaha Ciputra, Bapak Real Estate Indonesia

Ciputra  lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi- pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah. Keluarga Ciputra hidup dari hasil ibunya berjualan kue kecil-kecilan

Dengan bekal ketekunan dan kegigihan dalam belajar Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan dimana usaha awal ini merupakan tonggak dari kesuksesan Ciputra di masa depan dengan bendera Jaya Group.

Beberapa proyek yang dikelola oleh Ciputra merupakan proyek-proyek yang fenomenal. Siapa yang tidak tahu dengan Taman Impian Jaya Ancol yang merupakan visi Ciputra merubah lahan rawa menjadi suatu pusat rekreasi terbesar di Indonesia. Kawasan elit Pondok Indah juga merupakan ide Ciputra untuk membuat salah satu real estate elite pertama di Indonesia. Bersama para pebisnis raksasa lainnya Ciputra membentuk Metropolitan Group dan membangun suatu kawasan yang tadinya sama sekali tidak dilirik orang yaitu kawasan Serpong. 

Pada tahun 1997 terjadilah krisis ekonomi. Krisis tersebut menimpa tiga group yang dipimpin Ciputra: Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Bisa dibilang hasil jerih payah Ciputra selama ini hampir lenyap semua oleh hantaman krisis ekonomi yang melanda. Hutang yang menumpuk harus dihadapi oleh Ciputra. Periode ini merupakan periode yang sangat menyesakkan bagi Ciputra. Namun dengan prinsip hidup yang kuat Ciputra mampu melewati masa itu dengan baik.

Dengan keteguhan hati dan sifat pantang menyerah disertai ”keberuntungan” seperti adanya kebijakan moneter dari pemerintah, diskon bunga dari beberapa bank sehingga ia mendapat kesempatan untuk merestrukturisasi utang-utangnya. Akhirnya bisnis Ciputra dapat bangkit kembali dan kini Group Ciputra telah mampu melakukan ekspansi usaha di dalam dan ke luar negeri

Ketika mula didirikan, PT Pembangunan Jaya cuma dikelola oleh lima orang. Kantornya menumpang di sebuah kamar kerja Pemda DKI Jakarta Raya. Kini, 20-an tahun kemudian, Pembangunan Jaya Group memiliki sedikitnya 20 anak perusahaan dengan 14.000 karyawan. Namun, Ir. Ciputra, sang pendiri, belum merasa sukses. ‘Kalau sudah merasa berhasil, biasanya kreativitas akan mandek’ kata Dirut PT Pembangunan Jaya itu.
Ciputra memang hampir tidak pernah mandek. Untuk melengkapi 11 unit fasilitas hiburan Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Jakarta. Proyek usaha Jaya Group yang cukup menguntungkan telah dibangun ‘Taman Impian Dunia’. Di dalamnya termasuk ‘Dunia Fantasi’, ‘Dunia Dongeng’, ‘Dunia Sejarah’, ‘Dunia Petualangan’, dan ‘Dunia Harapan’. Sekitar 137 ha areal TIJA yang tersedia, karenanya, dinilai tidak memadai lagi. Sehingga, melalui pengurukan laut (reklamasi) diharapkan dapat memperpanjang garis pantai Ancol dari 3,5 km menjadi 10,5 km.
Masa kanak Ciputra sendiri cukup sengsara. Lahir dengan nama Tjie Tjin Hoan di Parigi, Sulawesi Tengah, ia anak bungsu dari tiga bersaudara. Dari usia enam sampai delapan tahun, Ci diasuh oleh tante-tantenya yang ”bengis”. Ia selalu kebagian pekerjaan yang berat atau menjijikkan, misalnya membersihkan tempat ludah. Tetapi, tiba menikmati es gundul (hancuran es diberi sirop), tante-tantenyalah yang lebih dahulu mengecap rasa manisnya. Belakangan, ia menilainya sebagai hikmah tersembunyi. ‘Justru karena asuhan yang keras itu, jiwa dan pribadi saya seperti digembleng’ kata Ciputra.
Pada usia 12 tahun, Ciputra menjadi yatim. Oleh tentara pendudukan Jepang, ayahnya, Tjie Siem Poe, dituduh anti-Jepang, ditangkap, dan meninggal dalam penjara. ‘Lambaian tangan Ayah masih terbayang di pelupuk mata, dan jerit Ibu tetap terngiang di telinga’ tuturnya sendu. Sejak itu, ibunyalah yang mengasuhnya penuh kasih. Sejak itu pula Ci harus bangun pagi-pagi untuk mengurus sapi piaraan, sebelum berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki sejauh 7 km. Mereka hidup dari penjualan kue ibunya.
Atas jerih payah ibunya, Ciputra berhasil masuk ke ITB dan memilih Jurusan Arsitektur. Pada tingkat IV, ia, bersama dua temannya, mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan berkantor di sebuah garasi. Saat itu, ia sudah menikahi Dian Sumeler, yang dikenalnya ketika masih sekolah SMA di Manado. Setelah Ciputra meraih gelar insinyur, 1960, mereka pindah ke Jakarta, tepatnya di Kebayoran Baru. ‘Kami belum punya rumah. Kami berpindah-pindah dari losmen ke losmen’ tutur Nyonya Dian, ibu empat anak. Tetapi dari sinilah awal sukses Ciputra.
Ciputra telah sukses melampaui semua orde; orde lama, orde baru, maupun orde reformasi. Dia sukses membawa perusahaan daerah maju, membawa perusahaan sesama koleganya maju, dan akhirnya juga membawa perusahaan keluarganya sendiri maju. Dia sukses menjadi contoh kehidupan sebagai seorang manusia. Memang, dia tidak menjadi konglomerat nomor satu atau nomor dua di Indonesia, tapi dia adalah yang TERBAIK di bidangnya: realestate.
Pada usianya yang ke-75, ketika akhirnya dia harus memikirkan pengabdian masyarakat apa yang akan ia kembangkan, dia memilih bidang pendidikan. Kemudian didirikanlah sekolah dan universitas Ciputra. Bukan sekolah biasa. Sekolah ini menitikberatkan pada enterpreneurship. Dengan sekolah kewirausahaan ini Ciputra ingin menyiapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa pengusaha.
Sumber  : http://inspirasisuksesmulia.blogspot.com/2013/02/kisah-sukses-pengusaha-ciputra-bapak.html

Kisah Sukses Bob Sadino, Memilih Miskin Sebelum Kaya


Intrepreneur sukses yang satu ini menjalani jalan hidup yang panjang dan berliku sebelum meraih sukses. Dia sempat menjadi supir taksi hingga kuli bangunan yang hanya berpenghasilan Rp100.
Penampilannya eksentrik. Bercelana pendek jins, kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, dan kerap menyelipkan cangklong di mulutnya. Ya, itulah sosok pengusaha ternama Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses yang merintis usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Siapa sangka, pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket) ini pernah menjadi sopir taksi dan kuli bangunan dengan upah harian Rp100.
Celana pendek memang menjadi “pakaian dinas” Om Bob –begitu dia biasa disapa– dalam setiap aktivitasnya. Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1933, yang mempunyai nama asli Bambang Mustari Sadino, hampir tidak pernah melewatkan penampilan ini. Baik ketika santai, mengisi seminar entrepreneur, maupun bertemu pejabat pemerintah seperti presiden. Aneh, namun itulah Bob Sadino.
“Keanehan” juga terlihat dari perjalanan hidupnya. Kemapanan yang diterimanya pernah dianggap sebagai hal yang membosankan yang harus ditinggalkan. Anak bungsu dari keluarga berkecukupan ini mungkin tidak akan menjadi seorang entrepreneur yang menjadi rujukan semua orang seperti sekarang jika dulu tidak memilih untuk menjadi “orang miskin”.
Sewaktu orangtuanya meninggal, Bob yang kala itu berusia 19 tahun mewarisi seluruh hartake kayaan keluarganya karena semua saudara kandungnya kala itu sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih sembilan tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam, Belanda, juga di Hamburg, Jerman. Di Eropa ini dia bertemu Soelami Soejoed yang kemudian menjadi istrinya.
Sebelumnya dia sempat bekerja di Unilever Indonesia. Namun, hidup dengan tanpa tantangan baginya merupakan hal yang membosankan. Ketika semua sudah pasti didapat dan sumbernya ada menjadikannya tidak lagi menarik. “Dengan besaran gaji waktu itu kerja di Eropa, ya enaklah kerja di sana. Siang kerja, malamnya pesta dan dansa. Begitu-begitu saja, terus menikmati hidup,” tulis Bob Sadino dalam bukunya Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila.
Pada 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Kala itu dia membawa serta dua mobil Mercedes miliknya. Satu mobil dijual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Satu mobil Mercedes yang tersisa dijadikan “senjata” pertama oleh Bob yang memilih menjalani profesi sebagai sopir taksi gelap. Tetapi, kecelakaan membuatnya tidak berdaya. Mobilnya hancur tanpa bisa diperbaiki.
Setelah itu Bob beralih pekerjaan menjadi kuli bangunan. Gajinya ketika itu hanya Rp100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Bob merasakan bagaimana pahitnya menghadapi hidup tanpa memiliki uang. Untuk membeli beras saja dia kesulitan. Karena itu, dia memilih untuk tidak merokok. Jika dia membeli rokok, besok keluarganya tidak akan mampu membeli beras.
“Kalau kamu masih merokok, malam ini besok kita tidak bisa membeli beras,” ucap istrinya memperingati.
Kondisi tersebut ternyata diketahui teman-temannya di Eropa. Mereka prihatin. Bagaimana Bob yang dulu hidup mapan dalam menikmati hidup harus terpuruk dalam kemiskinan. Keprihatinan juga datang dari saudara-saudaranya. Mereka menawarkan berbagai bantuan agar Bob bisa keluar dari keadaan tersebut. Namun, Bob menolaknya.
Dia sempat depresi, tetapi bukan berarti harus menyerah. Baginya, kondisi tersebut adalah tantangan yang harus dihadapi. Menyerah berarti sebuah kegagalan. “Mungkin waktu itu saya anggap tantangan. Ternyata ketika saya tidak punya uang dan saya punya keluarga, saya bisa merasakan kekuatan sebagai orang miskin. Itu tantangan, powerfull. Seperti magma yang sedang bergejolak di dalam gunung berapi,” papar Bob.
Jalan terang mulai terbuka ketika seorang teman menyarankan Bob memelihara dan berbisnis telur ayam negeri untuk melawan depresinya. Pada awal berjualan, Bob bersama istrinya hanya menjual telur beberapa kilogram. Akhirnya dia tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Ketika itu, di Indonesia, ayam kampung masih mendominasi pasar. Bob-lah yang pertama kali memperkenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Bob menjual telur-telurnya dari pintu ke pintu. Padahal saat itu telur ayam negeri belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya tersebut hanya dibeli ekspatriat-ekspatriat yang tinggal di daerah Kemang.
Ketika bisnis telur ayam terus berkembang Bob melanjutkan usahanya dengan berjualan daging ayam. Kini Bob mempunyai PT Kem Foods (pabrik sosis dan daging). Bob juga kini memiliki usaha agrobisnis dengan sistem hidroponik di bawah PT Kem Farms. Pergaulan Bob dengan ekspatriat rupanya menjadi salah satu kunci sukses. Ekspatriat merupakan salah satu konsumen inti dari supermarketnya, Kem Chick. Daerah Kemang pun kini identik dengan Bob Sadino.
“Kalau saja saya terima bantuan kakak-kakak saya waktu itu, mungkin saya tidak bisa bicara seperti ini kepada Anda. Mungkin saja Kemstick tidak akan pernah ada,” ujar Bob.
Pengalaman hidup Bob yang panjang dan berliku menjadikan dirinya sebagai salah satu ikon entrepreneur Indonesia. Kemauan keras, tidak takut risiko, dan berani menjadi miskin merupakan hal-hal yang tidak dipisahkan dari resepnya dalam menjalani tantangan hidup. Menjadi seorang entrepreneur menurutnya harus bersentuhan langsung dengan realitas, tidak hanya berteori.
Karena itu, menurutnya, menjadi sarjana saja tidak cukup untuk melakukan berbagai hal karena dunia akademik tanpa praktik hanya membuat orang menjadi sekadar tahu dan belum beranjak pada taraf bisa. “Kita punya ratusan ribu sarjana yang menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi menghidupi orang lain,” jelas Bob.
Bob membuat rumusan kesuksesan dengan membagi dalam empat hal yaitu tahu, bisa, terampil, dan ahli.
“Tahu” merupakan hal yang ada di dunia kampus, di sana banyak diajarkan berbagai hal namun tidak menjamin mereka bisa. Sedangkan “bisa” ada di dalam masyarakat. Mereka bisa melakukan sesuatu ketika terbiasa dengan mencoba berbagai hal walaupun awalnya tidak bisa sama sekali. Sedangkan “terampil” adalah perpaduan keduanya. Dalam hal ini orang bisa melakukan hal dengan kesalahan yang sangat sedikit. Sementara “ahli” menurut Bob tidak jauh berbeda dengan terampil. Namun, predikat “ahli” harus mendapatkan pengakuan dari orang lain, tidak hanya klaim pribadi.

Sumber : http://pemudakayaraya.wordpress.com/2010/11/19/kisah-sukses-bob-sadino-memilih-miskin-sebelum-kaya/

Kisah Sukses Warren Buffet, Orang Ketiga Terkaya di Dunia

Warren Edward Buffett (lahir di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, 30 Agustus 1930; umur 78 tahun) adalah seorang investor danpengusaha Amerika Serikat.

Bila saja tujuh keajaiban dunia bisa ditambah dan tidak hanya terdiri dari karya arsitektur, tapi juga orang, maka Warren Buffett boleh diusulkan sebagai salah satunya. Bayangkan saja, dalam sekitar 29 tahun, ia bisa meroketkan modalnya dari 100 dolar AS menjadi 57,4 miliar dolar AS pada Mei 1999. Forbes, majalah ekonomi kelas dunia, pada 2005 menempatkan Buffett sebagai pengusaha terkaya kedua di dunia setelah William Gates alias Bill Gates pemilik Microsoft.

Jika kekayaan Gates 46,5 miliar dolar AS, maka Buffett 44 miliar dolar AS.Keping-keping uang Buffett diperoleh dari keuntungan sesudah membeli perusahaan-perusahaan terdaftar di pasar modal yang dapat diakses setiap investor. Setelah selama 13 tahun berada pada posisi manusia paling kaya sejagad, akhirnya dominasi Bill Gates harus tergeser oleh Warren Buffett sebagai manusia paling kaya di dunia versi majalah Forbes. Kekayaan Buffett sekitar US$ 62 miliar. Posisi nomor dua manusia paling kaya didunia diduduki Carlos Slim HelĂș, seorang jutawan dari Meksiko dengan kekayaan US$ 60 miliar. Sedangkan Bill Gates posisinya turun ke urutan ke 3 dengan kekayaan US$58 miliar.

Pada tahun 2007, kekayaan Buffett naik sebanyak US$ 10 miliar dari nilai sebelumnya US$ 52 miliar menjadi US$ 62 miliar, nilai kekayaan tersebut setara dengan Rp 570 triliun. Semua kekayaan Buffett tersebut dihitung berdasarkan nilai sahamnya di perusahaan Berkshire Hathaway dan aset lainnya yang dimilikinya. Warren Buffett, seorang pebisnis dan investor yang memiliki ketajaman pikiran yang diumpamakan Albert Einstein, Picasso dan Croesus digabungkan dalam satu tubuh. Ya, Warren Buffett yang sering disebut “Oracle from Omaha” ini telah menggeser dominasi Bill Gates, seorang pendiri raksasa piranti lunak Microsoft, yang telah mendominasi daftar orang terkaya di dunia selama kurang lebih 13 tahun.

Sebenarnya bisa saja Bill gates tetap berada di singgasananya tahun ini, namun langkahnya menawar Yahoo! pada bulan Februari yang lalu ternyata diragukan pasar, dan hal ini mengakibatkan turunnya nilai saham Microsoft sampai 13%. Otomatis kekayaan Bill Gates yang masih tertumpu di Microsoft tersebut juga ikut tergrogoti. Jika pada pada tahun 2007 harta Buffett naik sebanyak US$ 10 miliar, maka kekeyaan Bill Gates hanya naik sebanyak US$ 2 miliar menjadi US$ 58 miliar.

Kisah tentang Sang Bijak dari Omaha ini dapat ditemukan dimana-mana. Sangat banyak buku yang membahas langkah investor papan atas ini. Langkah-langkah bisnisnya sangat mempesona dan cerdik sehingga selalu menjadi buruan para wartawan bisnis dan selalu menjadi perhatian para investor perorangan. Begitu banyak pula media yang telah menulis tentang sosoknya. Yang menarik hampir setiap langkah yang diambil Buffet adalah sebuah langkah investasi, dengan membeli saham perusahaan.

Tahun lalu sempat muncul rumor di milis investor perorangan bursa Jakarta, bahwa sang investor fundamental Warren Buffett “berbelanja” saham di Bursa Efek Jakarta. Segera saja para anggota milis menebak saham apa kira-kira yang akan diborong investor kelas wahid tersebut. Selain itu, ditoko-toko buku dapat ditemukan beberapa buku panduan investasi yang mengupas cara-cara sukses melakukan investasi ala Buffett.

Pria kelahiran 30 Agustus 1930 di Omaha, Nebraska yang sudah secara total berkecimpung di bursa, boleh disebut sebagai salah seorang ikon pasar modal. Perjalanan karier suami almarhumah Susan Buffett di pasar modal sungguh panjang. Setelah menempuh studi untuk mendapat gelar master di Columbia Graduate Business School, pada 1951-1954, Buffett bekerja sebagai salesman investasi di Omaha. Sesudah itu, pria yang mendapat gelar kehormatan The Sage of Omaha (Orang Pandai dari Omaha) dari warga Kota Omaha, pindah ke New York untuk bekerja sebagai analis sekuritas di Graham-Newman Corporation.

Buffett tak lama bekerja di perusahaan milik Benjamin Graham, salah seorang yang dianggap Buffett sebagai maha guru pasar modal. Sebab pada 1956-1969 bermodalkan US$ 100 dia mengelelola dana milik orang-orang kaya Nebraska di Omaha. Perusahaan investasi yang sukses itu akhirnya dijual dan dibubarkan. Para investornya tersenyum puas karena rata-rata mengantongi keuntungan 30,4 persen per tahun.

Langkah awal Warren Buffet yang strategis adalah di tengah menjalankan fungsi sebagai manajer investasi itu, pada 1965 Buffett membeli Berkshire Hartaway seharga US$ 8 per lembar. Tiga tahun kemudian, ia berhasil menjadi pemegang saham terbesar perusahaan tersebut. Dengan cerdik, ia memutar uang perusahaan yang menganggur dalam bentuk investasi, misalnya dengan membeli perusahaan asuransi, perusahaan permata, utilitas dan makanan melalui Berkshire Hathaway. 


Di tangan Buffett, perusahaan itu terus meroket. Selama lebih dari 34 tahun para pemegang saham memperoleh tingkat pengembalian tahunan sekitar 24,7 persen. Artinya, siapa saja yang menanam 10 ribu dolar AS pada 1965, maka nilai kekayaannya menjadi 51 juta dolar AS pada 1999. Luar biasa. Kini, setelah 46 tahun, saham kelas A Berkshire Hathaway telah meroket luar biasa, dan sempat mencapai US$ 150.000 per lembar saham. Melalui perusahaan ini pula, ia dapat menguasai saham beberapa perusahaan kelas dunia (walau tidak menjadi pemegang saham pengendali) seperti pada Coca Cola, Anheuser-Busch, WellFargo dan Kraft Food. Langkah bisnis terbarunya, pada desember 2007 lalu ia mengakuisisi perusahaan manufaktur dan jasa, Momon Holding dengan nilai US$ 4,5 miliar.


Bukan Spekulasi


Strategi investasinya sederhana. Dia tak ingin dipusingkan oleh rumor yang setiap hari berseliweran dikalangan para investor saham. Warren Buffet berfokus pada perusahaan yang punya potensi untuk berkembang, tetapi masih berharga murah untuk dibeli. Langkah investasi Buffet sangat berbeda dari langkah George Soros, sang spekulan valas (forex) kelas kakap, yang pernah diisukan sebagai orang yang bertanggungjawab atas merosotnya nilai tukar rupiah terhadap US$ pada tahun 1998 dan menyebabkan Indonesia Krismon bahkan perdana menteri malaysia saat itu Mahatir Muhammad sangat beramterhadap Soros karena dianggap penyebab krismon di ASEAN.


Seorang spekulan saham biasanya Beli saat harga rendah, berharap dan menunggu, lalu jual kembali saat harga tinggi. Spekulan saham lebih fokus bermain untuk jangka pendek dan mendapatkan gain/ keuntungan berupa selisih dari harga jual di kurangi harga beli. Robert T kiyosaki sendiri menyebut investor jenis ini sebenarnya bukan investor yang melakukan investasi, tetapi lebih mirip penjudi dipasar saham (spekulasi). Investor jenis juga ini dikenal sebagai investor “ji-go-bur”, investor yang jika sudah mendapatkan keuntungan ala jigo-gocap, beli saham pada harga Rp 25 lalu jual kembali pada harga Rp 50, bahkan spekulan saham seringkali membeli saham di pagi hari dan menjualnya di sore hari.


Keputusannya melakukan investasi didasarkan pada nilai intrinsik perusahaan, tidak pada kenaikan harga saham yang didongkrak alias “digoreng”.

Warren Buffett memegang saham (melakukan investasi) dalam jangka panjang dan tidak melakukan transaksi jual beli saham dalam jangka pendek. Mungkin banyak orang yang belum tahu satu hal yang selalu dilakukan Warren Buffett dan menjadi pertimbangannya dalam membeli saham sebuah perusahaan, yaitu melihat apakah cerobong asap perusahaan masih mengepul, baginya ini merupakan salah satu indokator perusahaan tersebut benar-benar masih eksis dan operasional.

Selain itu, Warren Buffett hanya mau melakukan investasi pada perusahaan yang bisnis atau produknya ia kenal dengan baik. Warren Buffet tidak pernah menggunakan prinsip “membeli saham” tetapi “membeli bisnis” (buying a business not share). Ia membeli saham coca-cola dan tidak pernah menjualnya, walau saham Coca-Cola sempat jatuh pada tahun 1998-1999, ia tetap melihat pada tren jangka panjang dan tetap memertahankan saham Coca-Cola hingga saat ini.

Itulah sebabnya, ia tidak pernah mau membeli saham Microsoft atau perusahaan dotcom. Pada saat tahun 2.000 – an bisnis internet booming, eforia melanda semua orang di pasar saham dan beramai-ramai membeli saham dotcom. Tetapi Waren Buffett tidak ikut-ikutan membeli saham dotcom seperti halnya investor lain. Walaupun ia pernah ditertawakan investor lain karna ia tidak mau membeli saham dotcom seperti yang lainnya, sekarang justru ia yang tertawa paling akhir karena ternyata sebagian besar investasi di dotcom tersebut hangus.


 Ia selamat dari badai dotcom awal tahun 2.000-an karena ia tidak mengenal bisnis dotcom dan oleh karenanya tidak berinvestasi disana. Ia bukan seoran investor yang ikut-ikutan, tetapi memiliki pertimbangan bisnis sendiri didalam dirinya. Saham perusahaan berbasis internet seperti Global Crossing dan Etoys.com pernah mencapai US$ 80 per unit, namun sekarang saham-saham tersebut sudah tidak berharga. Tentu saja penilaian warren Buffet tidak cocok pas untuk saham Google.


Warren Buffett dalam membeli sebuah saham perusahaan yang masuk dalam kreterianya, tidak pusing dengan tabel, rumus grafis dan analisis teknikal. Hal yang lebih di analisanya adalah fundamantal perusahaan tersebut. Buku favoritnya ialah The Intelligent Investor karya Ben Graham, gurunya. menurut Graham, berinvestasi adalah berkenaan dengan bagaimana memahami gambaran besar, dan bukan terpaku pada detail-detail teknis.

Dua guru Warren Buffett mengaku mengagumi pula, selain Benjamin Graham, Philip Fisher. Dua orang yang dianggap sebagai maha guru oleh Buffett memiliki karakter investasi yang berbeda. Graham lebih dikenal dengan strategi investasi nilai. Saat memilih saham, Graham selalu mendasarkan pada analisis fundamental keuangan perusahaan dan strategi diversifikasi. Artinya, Graham menekankan pada kriteria kuantitatif, selalu mencari saham yang harga pasar jauh di bawah harga wajar. Sebaliknya, Philip Fisher lebih menekankan pada kriteria kualitatif. 


Menurut Fisher, sebelum membeli saham sebuah perusahaan, lihat dulu tim manajemen pengelolanya, bagaimana cara perusahaan tersebut dikelola. Buffett melihat, ada kesamaan dari kedua orang pakar tersebut. Keduanya sukses dan sama-sama berpikir jangka panjang untuk setiap investasi. Graham misalnya menganjurkan agar investor memilih saham yang layak dipegang, meski pun pasar saham mendadak tutup besok. Sedangkan Fisher memberi contoh lewat cara dia memegang saham Texas Instrument, yang dibeli sejak awal perusahaan tersebut melakukan private placement. Nah, Buffett sang brilian, mencoba menggabung strategi Graham dan Fisher


Pria sederhana


Warren Buffett walau menjadi manusia terkaya sejagad tetap sederhana dan tinggal di kawasan Dundee, Omaha, yang dibeli olehnya pada tahun 1958. Ia juga bersahabat baik dengan pasangan Bill dan Melinda Gates.

Sesungguhnya Warren Buffett pernah berjanji untuk menyumbangkan kekayaannya setelah ia meninggal. Namun, tampaknya ia bertindak lebih cepat dari dugaan, karena Dengan hartanya yang begitu melimpah, Buffett bisa saja hidup semewah mungkin di mana saja yang ia maui. Namun ia memilih hidup sederhana di rumah yang dibelinya empat dekade lalu di Omaha. Menurut majalah Adbuster, ia hanya punya dua jet pribadi dan satu yacht mewah untuk untuk ber-glamour-ria. Kalah jauh dibanding kemewahan para pebisnis dan pesohor lain yang kekayaannya justru terpaut jauh di bawahnya.

Buffet sama sekali tidak pernah ingin mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya. Ia ingin anak-anaknya sukses dengan usaha sendiri dan bukan mengandalkan kekayaan orang tua mereka. “Bukan hal rasional dan benar untuk membanjiri mereka dengan uang. Kalau anda melakukan itu, mereka akan menjadi besar kepala dan hanya mengandalkan warisan dari orang tuanya” kata Buffet.

Ia pun berkonsultasi dengan anak-anak dan orang terdekatnya akan rencananya menyumbangkan 85% dari kekayaannya. Berat untuk diterima bagi keluarganya, karena hal ini akan mendatangkan perubahan besar bagi keluarganya. Namun keluarganya pun mengerti keputusan sang ayah.

Ia berharap tindakannya itu mengilhami orang kaya yang bergemilang harta untuk mengikuti dia. “ supaya harapan kecil bahwa yang saya lakukan ini mendorong orang yang sangat kaya lainnya untuk mengembangkan sikap cinta terhadap sesama dan suka menderma”. Katanya.

Buffet mengaku sudah cukup puas dengan apa yang ia miliki sekarang dan apa yang ia sudah pernah rasakan sampai saat ini. “ ini bukanlah hal gila seperti seorang yang mati dengan membawa 1 miliar dolar kedalam liang kuburnya. Satu masalah yang dihadapi sebagian orang kaya adalah ketika mereka sudah tua. Saat itu, mereka sudah tidak berada di tahun kejayaan mereka dan tidak punya banyak waktu lagi untuk mengalokasikan uang mereka. Saya sangat beruntung karena saat ini saya masih bisa bertindak seperti orang yang lebih muda,” katanya. “ saya menjadi kaya bukan karena punya tambang emas atau warisan. Tapi semua itu lahir karena kerja keras dan keterampilan yang benar di tempat yang tepat pada waktu yang tepat pula,” kenangnya.
Sumber  :
http://inspirasisuksesmulia.blogspot.com/2013/02/kisah-sukses-warren-buffet-orang-kedua.html

Kisah Bill Gates : Dilempari Botol, DO Dari Kuliah Hingga Sukses dan Kaya Raya

Bill Gates adalah salah satu nama paling terkenal di jagat teknologi. Ia mendirikan Microsoft yang menjelma sebagai perusahaan software terbesar di dunia. Nama Bill Gates sering dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Padahal, perjalanan hidupnya bisa dibilang tidak terlalu mulus dimana ia lebih memilih drop out dari universitas.

Nama lengkap Bill Gates adalah William Henry "Bill" Gates III. Ayahnya bernama sama dengannya William Henry Gates II yang saat ini berusia 86 tahun. Sedangkan sang ibu, Mary Maxwell Gates meninggal dunia tahun 1994.

Ayah Gates berprofesi sebagai pengacara cukup terkenal. Sedangkan sang ibu menduduki dewan pimpinan di berbagai perusahaan. Gates punya dua saudawar wanita bernama Kristianne dan Libby.
Di keluarga yang berada itulah, Bill Gates tumbuh besar. Bill sangat dekat dengan ibunya, Mary. Mary di masa mudanya dikenal sebagai atlet dan mahasiswa top. Dia menanamkan nilai kedisplinan pada anak-anaknya, termasuk pada Bill Gates.

Mary menuntut anaknya untuk selalu belajar keras, berolahraga dan mengikuti les musik. Dia juga berharap anak-anaknya berpakaian dengan pantas dan ramah kepada para tamu yang berkunjung ke rumah.

"Dia orang tua yang banyak terlibat dengan anaknya. Bukan hanya soal peringkat di kelas atau semacamnya, namun bagaimana kami harus bersikap di publik," tukas Libby Armintrout, adik Bill Gates.

Kutu Buku

Sejak usia muda atau sekitar 10 tahun, Bill Gates menurut penuturan ayahnya sudah sangat suka belajar. Dia sudah tamat membaca World Book Encylopedia dari seri awal sampai akhir.

"Saya sungguh memiliki banyak impian ketika masih kecil dan saya pikir hal itu tumbuh dari fakta bahwa saya punya kesempatan untuk banyak membaca," kata Gates suatu ketika.

Orang tuanya pun sangat mendukung hobi yang bagus tersebut. Mereka selalu membelikan buku apapun yang diminta oleh anaknya. Pada usia 11 tahun, Gates sudah aktif bertanya pada ayah soal topik bisnis sampai peristiwa dunia.

"Sungguh menarik dan saya pikir itu adalah hal yang hebat. Namun ibunya tidak menyukai kebiasannya itu," kenang Gates senior.
Ya, sang ibu mulai khawatir karena Gates mulai cenderung hanya suka berkutat dengan buku ketimbang berhubungan dengan orang lain. Gates pun mulai sering bertengkar dengan ibu yang berupaya mengontrolnya

Ayah dan ibu Gates mulai khawatir karena anaknya terlihat cepat bosan. Ia memang anak yang pandai dan mampu menyerap semua pelajaran dengan baik.

Pada umur 13 tahun, Bill menuntut ilmu di sekolah eksklusif, Lakeside School. Dia dikenal sebagai siswa yang sangat pandai di sana.

Di sisi lain, Bill Gates mulai tidak suka dikontrol orang tuanya. Pada sebuah makan malam ketika Gates masih remaja, ia berkata cukup kasar pada sang ibu karena sebuah pertengkaran. Sang ayah pun melempar botol minum ke wajah anaknya. Ia kecewa anaknya menjadi bandel.

Gates akhirnya dibawa ke seorang terapis. Sang konselor menyatakan bahwa pada akhirnya, sang anak akan menang dalam 'pertengkaran' sehingga disarankan untuk tidak terlalu mengekangnya.

Ibu dan ayah Gates akhirnya membiarkan anaknya tumbuh mandiri dan tidak terlalu mengekangnya lagi. Gates pun gemar berpetualang untuk menyalurkan hobinya mengutak atik komputer.

Dia pernah menghabiskan beberapa malam di University of Washington untuk main komputer gratis. Dia pernah pula bekerja paruh waktu sebagai programmer di sebuah power plant di selatan Washington.

Drop Out dari Universitas Harvard

Akhirnya setelah mendirikan Microsoft bersama Paul Allen, Bill Gates memutuskan drop out dari Harvard University. Meski berat, orang tuanya mendukung keputusannya itu.

"Mary dan aku sangat cemas tentang itu. Harapannya dan aku sebenarnya sama dengan orang-orang yang punya anak di universitas, yaitu agar dia wisuda," kata Gates senior.
Ibunya tetap meminta Gates melakukan beberapa hal. Misalnya menjaga rumahnya tetap bersih dan datang berkunjung seminggu sekali untuk makan bersama.

"Sungguh sebuah keputusan berat dan saya tahu orang tua juga mengkhawatirkannya. Dan meskipun saya tidak akan pernah mendorong orang lain untuk drop out sekolah, bagi saya pilihan itu memang tepat," ucap Bill Gates suatu ketika.

Namun Gates pernah menyatakan penyesalan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya. Dia pun meminta agar para mahasiswa tidak mengikuti jejaknya.

"Saya kira drop out kuliah bukan ide yang bagus. Saya senang bisa menempuh kuliah meski hanya dua setengah tahun. Saya melengkapi beberapa kuliah dengan kursus online," kata Gates dalam sebuah pidato di Universitas Chicago.

Pilihan Bill Gates untuk drop out memang tepat baginya. Ia fokus mengembangkan Microsoft yang kemudian berjaya sebagai produsen software komputer terbesar di dunia.

Sistem operasi Windows sampai sekarang masih sangat dominan dipakai di mayoritas komputer. Dan belum ada pesaing yang cukup berarti. Bill pun kerap dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Harta kekayaannya diestimasi USD 61 miliar.

"Saya mengambil langkah raksasa dan segera. Jika Anda berada di tempat dan waktu yang tepat dan memiliki visi ke mana teknologi baru akan menuju namun Anda tidak beraksi, Anda tidak akan pernah bisa sukses," katanya mengenai resep suksesnya.

Saat ini, Bill Gates memang sudah pensiun dalam mengurusi Microsoft. Dia memilih fokus pada urusan kemanusiaan di yayasan Bill & Melinda Gates Foundation.

Sampai tahun 2007, total sumbangan yang diberikan Bill & Melinda Gates Foundation telah mencapai USD 28 miliar. Yayasan ini dianggap salah satu yang paling banyak menyumbangkan uang untuk kegiatan kemanusiaan.

Bill Gates sendiri dilaporkan telah memberikan persentase besar dari hartanya untuk aktivitas filantropi, sebesar 48%. Dia bergabung dengan dermawan kaya lain yang juga punya jejak sama, seperti Andrew Carnegie

Sumber :
http://duniakisahnyata.blogspot.com/2013/01/kisah-bill-gates-dilempari-botol-do.html